Gejala Filariasis

Gejala klinis filariasis terdiri dari gejala klinis akut dan kronis. Pada dasarnya gejala klinis filariasis yang disebabkan oleh infkeksi W. Bancroft, B. malayi dan B. timori adalah sama, tetapi gejala klinis akut tampak lebih jelas dan lebih berat pada infeksi oleh B. malayi dan B. timori. Infeksi W. bancrofti dapat menyebabkan kelainan pada saluran kemih dan alat kelamin.

Gejala Klinis kronis Gejala klinis kronis terdiri dari limfedema, lymp scrotum, kiluria, hidrokel

a. Limfedema
Pada infeksi W. bancrofti, terjadi pembengkakan seluruh kaki, seluruh lengan, skrotum, penis, vulva vagina dan payudara, sedangkan pada infeksi Brugia, terjadi pembengkakan kaki dibawah lutut, lengan di bawah siku dimana siku dan lutut masih normal
b. Lymph Scrotum
Adalah pelebaran saluran limfe supervisial pada kulit scrotum, kadang-kadang pada kulit penis, sehingga limfe tersebut mudah pecah dan cairan limfe mengalir keluar dan membasahi pakaian. Ditemukan juga lepuh (vesicles) besar dan kecil pada kulit, yang dapat pecah dan membasahi pakaian.
c. Kiluria
Adalah kebocoran atau pecahnya saluran limfe dan pembuluh darah diginjal (pelvis renal) oleh cacing dewasa species W.bancrofti, sehingga cairan limfe dan darah masuk kedalam saluran kemih. Gejala yang timbul adalah sebagai berikut :
1) Air kencing seperti susu karena air kencing banyak mengandung lemak, dan kadangkadang disertai darah (haematuria)
2) Sukar kencing
3) Kelelahan tubuh
4) Kehilangan berat badan
d. Hidrokel
Adalah pelebaran kantong buah zakar karena terkumpulnya cairan limfe di dalam tunica vaginalis testis. Hidrokel dapat terjadi pada satu atau dua kantung buah zakar

Sumber : Informasi Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

 awal

Promkes Kuat, Masyarakat Sehat!
© 2016 Fadlan Setiaji